Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Journal of Management of Aquatic Resources > KERAPATAN RUMPUT LAUT PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI BANDENGAN, JEPARA

 

Full Text PDF (404 kb)
Journal of Management of Aquatic Resources
Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
KERAPATAN RUMPUT LAUT PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI BANDENGAN, JEPARA
Yuanto, Tito Firmansyah ( Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro)
Ruswahyuni, - ( Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro)
Widyorini, Niniek ( Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
29 Apr 2014
 
Rumput laut merupakan tanaman air yang umumnya tumbuh melekat pada substrat pasir, karang, pecahan karang dan karang mati, tidak mempunyai akar, batang dan daun yang sejati, keseluruhan tanaman ini adalah batang, akar dan daun yang semu disebut thallus. Kedalaman merupakan salah satu parameter lingkungan yang berpengaruh tehadap kecerahan atau tingkat batas kemampuan cahaya matahari yang mampu masuk ke dalam suatu perairan. Cahaya matahari merupakan salah satu unsur yang penting dalam terjadinya proses fotosintesis di perairan. Rumput laut merupakan salah satu tumbuhan air yang hidupnya tergantung antara lain pada intensitas cahaya matahari. Oleh sebab itu semakin dalam suatu perairan maka semakin kecil pula intensitas cahaya matahari yang masuk, sehingga rumput laut yang tumbuh juga sedikit akibat kurangnya cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kerapatan rumput laut pada kedalaman 1, 2 dan 3 meter serta untuk mengetahui hubungan antar kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Penelitian ini dilakukan di Pantai Bandengan pada bulan April 2013. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskiptif adalah metode penelitian yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok ataupun suatu daerah kemudian melakukan analisa lebih lanjut mengenai kebenaran tersebut. Sampling dilakukan menggunakan line transek dengan panjang 100 m dan kuadran transek ukuran 1x1 m yang dibagi menjadi 16 kotak kecil, kemudian menghitung kerapatan serta penutupan rumput laut serta melakukan identifikasi rumput laut yang ditemukan. Hasil penelitian didapatkan kerapatan tertinggi pada kedalaman 1 meter dengan jumlah total 412 individu/300m². Pada kedalaman 2 dan 3 meter jumlah kerapatannya lebih kecil yaitu masing-masing 326 dan 162 individu/300m² . Hal ini karena pada kedalaman 2 dan 3 meter tingkat kecerahannya cukup rendah, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Substrat dasar pasir pada kedalaman 1 meter juga mempengaruhi kerapatan rumput laut. Dari pengujian korelasi antara kedalaman dengan kerapatan didapatkan nilai sebesar -0,984. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Seaweed is an aquatic plant that generally grows attached to a substrate of sand , coral , coral rubble and dead , didn’t have roots , stems and leaves are true, this is a whole plant stems, roots and leaves are called Thallus. Depth is one of the environmental parameters that influence tehadap brightness or level limits sunlight is able to get in to the water. Sunlight is one important element in the process of photosynthesis in water . Seaweed is one of the water plants that need the intensity of sunlight for thei life . Therefore, more deeper the water, also few of sunlight that can to the deep, so that the sea grass that grows too little due to lack of sunlight used for photosynthesis . This study aimed to determine differences in kelp density at a depth of 1 , 2 and 3 meters as well as to determine the relationship between the depth of the sea grass density . This research was conducted in Bandengan Beach in April 2013. In this study, the method was used descriptive method. Deskiptif method is a method of research that was conducted to obtain the facts of the existing symptoms and seek factual information from a group or a region and then perform further analysis on the truth . Sampling was conducted using line transect with a length of 100 m and the size of 1x1 m transect quadrant is divided into 16 small squares , then calculate the density as well as the closure of seaweed and seaweed identification were found . The study showed the highest density at a depth of 1 meter with a total of 412 individu/300m ². At a depth of 2 and 3 feet smaller number density, respectively 326 and 162 individu/300m ². This is because at a depth of 2 and 3 -meter brightness level was quite low, thus affecting the growth of seaweed. Substrate of sand at a depth of 1 meter also affects the density of sea grass.From the corelations test of the depth and the density values obtained at -0.984 . This means that there is a relationship between the depth of the sea grass density.
Copyrights © 2014