Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Jurnal Anestesiologi Indonesia > Pengaruh Blok Paravertebral Injeksi Tunggal dan Multipel Terhadap Kadar Kortisol Plasma Pasien Tumor Payudara Yang Dilakukan Eksisi Biopsi

 

Jurnal Anestesiologi Indonesia
Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Pengaruh Blok Paravertebral Injeksi Tunggal dan Multipel Terhadap Kadar Kortisol Plasma Pasien Tumor Payudara Yang Dilakukan Eksisi Biopsi
Article Info   ABSTRACT
Published date:
09 Jan 2014
 
Background: Mostly, definitive treatment for breast surgery was done under general anaesthesia. But general anaesthesia was not able to inhibit pain transmission to the brain. It also have side effects such as postoperative nausea and vomiting. There are some regional anaesthesia techniques such as infiltration, epidural and thoracal paravertebral block. Paravertebral block technique is by injecting local anaeshesia to block somatic and symphatetic ipsilaterally above and below injection site. Surgical trauma can attenuate stress response (local and systemic), increase of cortisol level is one the endocrine systemic response.Objective: To compare the difference effects between single injection and multiple injection thoracal paravertebral block in plasma cortisol and VAS in breast cancer patients undergoing biopsy excision.Methods: Sample consists of 20 patients undergoing biopsy excision. Blood samples were taken at 8 in the morning before surgery and 8 tomorrow morning. VAS was checked at hour-0 (when the patient enter the recovery room) and hour-24. Patients divided into 2 groups, multiple (M) injection group and single (T) injection group. Normality of data was tested by Shapiro-Wilk the distribution is normal. Analytical analysis done with pre and post test group design.Results: General characteristics on each group has normal distribution (p>0,05). Plasma cortisol level after surgery in group M (224,73 ± 0,73) and T (234,01 ± 0,84) was lower than before surgery in group M (256,55 ± 0,91) and T (258,34 ± 0,91) but not significantly different (p>0,05). VAS after surgey hour-0 in group M (3,5 ± 0,2) was lower than group T (3,9 ± 0,2) and significantly different (p=0,02). VAS after surgey hour -24 in group M (3,3 ± 0,7) was lower than group T (3,7 ± 0,7) but not significantly different (p=0,388).Conclusion: VAS at hour-0 in group M was significantly lower than group T. There is no differences in plasma cortisol level and VAS hour-24 between multiple (M) injection group and single (T) injection group in patient undergoing biopsy excision.Keywords : paravertebral block single injection, paravertebral block multiple injection, cortisol, VAS.ABSTRAKLatar Belakang: Tindakan bedah definitif payudara banyak dilakukan dengan anestesi umum. Namun, dengan anestesi umum ada sebagian rangsang nyeri yang tidak terhambat ke otak dan medulla spinalis. Anestesi umum juga dikaitkan dengan insidensi mual dan muntah. Beberapa tehnik anestesi regional yang pernah disebutkan dalam literatur untuk operasi payudara antara lain dengan infiltrasi lokal, anestesi epidural torakal dan blok paravertebral torakal. Blok paravertebral torakal merupakan teknik injeksi lokal di samping vertebra torakal yang menyebabkan blokade saraf somatik dan simpatik ipsilateral pada dermatom torakal di atas dan di bawah lokasi injeksi. Trauma pembedahan menyebabkan respon inflamasi lokal dan respon metabolik endokrin sistemik. Respon sistemik setelah pembedahan meliputi peningkatan hormon katabolik seperti katekolamin, kortisol, renin, aldosteron, dan glukagon.Tujuan: Membandingkan pengaruh antara blok paravertebral injeksi tunggal dan multipel terhadap kadar kortisol plasma dan VAS pasien yang dilakukan operasi eksisi biopsi.Metode: Penelitian ini dilakukan pada 20 penderita tumor payudara yang menjalani operasi eksisi biopsi. Pengambilan sampel darah perifer untuk pemeriksaan kortisol pada jam 8 pagi sebelum operasi dan jam 8 pagi besoknya. Nilai VAS diperiksa pada jam ke-0 (saat pasien masuk ruang pemulihan), dan jam ke-24. Penderita dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok M mendapat injeksi multipel dan kelompok T mendapat injeksi tunggal. Dilakukan uji normalitas distribusi kadar kortisol darah dan VAS dengan menggunakan Shaphio-Wilk test. Apabila p>0,05 maka distribusinya disebut normal. Analisis statistik dilakukan untuk menguji perbedaan kelompok dengan pre dan post test group design, signifikan bila p<0,05.Hasil: Data karakteristik sampel penelitian tiap kelompok terdistribusi normal(p>0,05). Kadar kortisol plasma pasca operasi pada kelompok M (224,73 ± 0,73) dan T (234,01 ± 0,84) lebih rendah dibandingkan sebelum operasi pada kelompok M (256,55 ± 0,91) dan T (258,34 ± 0,91) tetapi tidak berbeda bermakna (p>0,05). VAS pasca operasi jam ke-0 pada kelompok M (3,5 ± 0,2) lebih rendah dibanding kelompok T (3,9 ± 0,2) dan berbeda bermakna (p=0,02). VAS pasca operasi jam ke-24 pada kelompok M (3,3 ± 0,7) lebih rendah dibanding kelompok T (3,7 ± 0,7) tetapi tidak bermakna (p=0,388).Kesimpulan: VAS pasca operasi jam ke-0 kelompok M lebih rendah secara signifikan dibanding kelompok T. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kadar kortisol plasma dan VAS jam ke-24 pasca operasi antara injeksi multipel (M) dan injeksi tunggal (T) pada pasien yang menjalani eksisi biopsi.
Copyrights © 2014