Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > ADDIN > MENGUAK MULTIKULTURALISME DI PESANTREN (Telaah Atas Pengembangan Kurikulum)

 

ADDIN
Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Addin
MENGUAK MULTIKULTURALISME DI PESANTREN (Telaah Atas Pengembangan Kurikulum)
Susanti, Rini Dwi ( STAIN Kudus)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
12 Mar 2014
 
Wacana tentang multikultural secara substantive dalam konteks keindonesiaan bukan suatu hal baru. Karena sangat disadari bahwa Indonesia memiliki keragaman- budaya, etnis, ras, dan agama yang sangat banyak. Sehingga, secara sederhana bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural, ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri.
Pendidikan multikultural menjadi sangat penting untuk memahami perbedaan yang ada dalam masyarakat sebagai upaya untuk mengeliminir munculnya konflik sosial sebagai akibat ketidakpahaman terhadap kemajemukan dan heterogenitas tersebut. Pendidikan-apapun bentuknya tidak boleh kehilangan demensi multikulturalnya, termasuk di dalamnya pendidikan keagamaan dan keilmuan, karena realitas dalam kehidupan pada hakikatnya bersifat multidimensional. Pendidikan agama yang dimaksud salah satunya adalah “pesantren” yang di dalamnya tercipta heterogenitas. Pesantren dipandang sebagai sebuah lembaga pendidikan agama –Islam- yang sejak awal pemunculannya mampu beradaptasi dengan lingkungannya, dan sampai sekarang pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tetap survive di tengah arus perkembangan zaman.
Maka sudah selayaknya pesantren sebagai subkultur harus mampu mengeliminir pemahaman ajaran agama yang salah., ia harus tetap mengedepankan toleransi dan menghormati orang lain atau lingkungan sekitarnya. Pengayaan kurikulum yang tepat di pesantren menjadi suatu hal yang urgen, sehingga –paling tidak- mampu mencegah terjadinya muncul kesalahpahaman ajaran agama, yang akhirnya memunculkan konflik sosial. Pesantren harus mampu bersikap netral terhadap kondisi di sekitarnya bahkan bisa menjadi pengayom.

Kata kunci: Multikultural, Kurikulum, Pesantren, Heterogenitas
Copyrights © 2014