Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Sosio Humaniora > EKOLOGI DAN BUDAYA PETANI ASLI PAPUA DALAM USAHATANI DI KABUPATEN KEEROM

 

Full Text PDF (477 kb)
Sosio Humaniora
Vol 16, No 3 (2014): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2014
EKOLOGI DAN BUDAYA PETANI ASLI PAPUA DALAM USAHATANI DI KABUPATEN KEEROM
Turua, Untung ( dosen)
Hadi, Setia ( dosen)
Juanda, Bambang ( dosen)
Murniningtyas, Endah ( dosen)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
12 Nov 2014
 
Luas lahan yang dimiliki petani asli Papua asal Keerom sangat luas, namun penduduknya tidak berupayamengelolanya secara maksimal untuk usahatani. Hal ini dipengahuhi oleh budaya meramu hasil hutan dan berburuhewan liar dalam memenuhi kebutuhan hidup. Interaksi pada lingkungan alam tersebut menunjukkan tingkatketergantungan petani pada lingkungan alam masih tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ekologi dan budayapetani asli Papua dalam pengelolaan sumberdaya lahan (SDL) di wilayah Kabupaten Keerom. Metode penelitianini dimulai dengan menganalisis peta bentuk lahan, peta kesesuaian lahan, dan peta zone agroekologi digital,diikuti survei lapangan untuk pengambilan data fisik wilayah.Metode studi kasus dilakukan melalui pendekatananalisis interaktif Miles dan Huberman untuk menganalisis aspek kebiasaan hidup yang bertujuan mengungkapkanaktivitas budaya (adat). Wawancara dan Focus Group Discution (FGD) untuk mendapatkan data sosial budaya.Hasil penelitian menunjukkan penduduk keerom cenderung memilih dataran aluvial sebagai lokasi permukimankarena bentuk lahan ini sangat kaya potensi bahan pangan. Petani asli Papua asal Keerom terbiasa dengan polaambil, petik dan konsumsi atau jual, dibanding tanam, rawat, petik dan jual. Komoditas pertanian yang ditanampetani asli Papua adalah komoditas yang telah dipahami tahan terhadap serangan hama dan minim risiko gagalpanen, yaitu: keladi, ubijalar, singkong dan pisang, tapi dalam jumlah terbatas karena lebih diutamakan untukkonsumsi sendiri. Faktor modal sosial yang kuat dalam kehidupan penduduk tidak hanya terbatas pada pemberianbahan pangan kepada kerabat, tetapi ikut berpartisipasi dalam budaya bayar adat, denda adat, dan bayar maskawin,sehingga perolehan pendapatan tidak dijadikan untuk modal usahatani.
Copyrights © 2014