Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Buletin Penelitian Kesehatan > Tingkat Kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap Malation di Provinsi Sumatera Selatan

 

Full Text PDF (285 kb)
Buletin Penelitian Kesehatan
Vol 43, No 2 Jun (2015)
Tingkat Kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap Malation di Provinsi Sumatera Selatan
Ambarita, Lasbudi P. ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Taviv, Yulian ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Budiyanto, Anif ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Sitorus, Hotnida ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Pahlepi, R. Irpan ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Febriyanto, Febriyanto ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja Jl. Jend. A. Yani Km. 7 Kemelak Baturaja Sumatera Selatan 32111, Indonesia)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
22 Jul 2015
 
AbstractDengue vector control program in Indonesia and also South Sumatera Province has been using malathion quite long enough. The extensive use of chemical in dengue vector control can lead to development of resistance. This study aims to determine the susceptibility of Aedes aegypti against malathion in 11 district of South Sumatera Province. Larva or pupae were collected with entomology survey kit and colonized until first generation (F1) that were used for bioassay. This test was conducted according to WHO adult susceptibility bioassay procedure.Twenty five blood-fed mosquitoes were exposed to insecticide impregnated paper in each of 4 WHO test kits and 1 control tube. Aedes aegypti from all study sites were still susceptible to operational dose of malathion (5%)after 1 hour exposure. The estimated resistance ratio (ERR) of knockdown time (KT) to operasional dose of malathion is about 1,02 – 1,27 for KT50 and 0,96 – 1,24 for KT95. The susceptibility test of adult mosquitoes to diagnostic dose (0,8%) of malathion showed a variety of susceptibility after 24 hours. Strain of 7 districts showed resistance, 3 districts toleran and 1 district still susceptible. The detection of resistance can actually help public health personnel to formulate appropriate steps in encountering the reduction in effectiveness of vector control efforts.Keywords : Aedes aegypti, Malathion, Susceptibility, South SumateraAbstrakProgram pengendalian vektor DBD di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan telah cukup lama menggunakan malation dengan konsentrasi 5%. Penggunaan satu jenis insektisida kimiawi secara ekstensif dapat memicu perkembangan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status kerentanan Aedes aegypti terhadap malation dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Larva atau pupa dikumpulkan menggunakan alat survei entomologi dan selanjutnyadipelihara hingga mendapatkan generasi pertama (F1) yang akan digunakan pada uji kerentanan. Uji kerentanan mengacu kepada metode baku yang ditetapkan WHO. Sebanyak 25 ekor nyamuk dipaparkan terhadap insektisida pada 4 tabung uji dan 1 tabung kontrol. Strain Aedes aegypti yang berasal dari seluruh lokasi sampling menunjukkan masih rentan terhadap malation dosis 5% setelah paparan selama 1 jam. Angka estimated resistance ratio (ERR) dari knockdown time (KT) terhadap dosis operasional berkisar 1,02-1,27 untuk KT50 dan 0,96-1,24 untuk KT95. Uji kerentanan terhadap dosis diagnostik (0,8%) menunjukkan keragaman kerentanan setelah paparan selama 24 jam. Strain dari 7 kab/kota telah resisten, 3 kab/kota berstatus toleran dan 1 kabupaten masih rentan. Deteksi resistensi dapat menjadi acuan untuk menentukan tindakan yang efektif dalam mengatasi menurunnya efektivitas pengendalian vektor.Kata kunci : Aedes aegypti, Malation, Kerentanan, Sumatera Selatan
Copyrights © 2015