Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Aspirator > Hubungan Keberadaan Larva Nyamuk Aedes SPP DENGAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDUNG

 

Full Text PDF (710 kb)
Aspirator
Vol.7 No.2 Desember 2015
Hubungan Keberadaan Larva Nyamuk Aedes SPP DENGAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDUNG
Hakim, Lukman ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Jl. Raya Pangandaran KM.03, Ds. Babakan Kp.Kamurang, Pangandaran 46396)
Ruliansyah, Andri ( Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Jl. Raya Pangandaran KM.03, Ds. Babakan Kp.Kamurang, Pangandaran 46396)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
18 Dec 2015
 
Abstract. Bandung is the region with most cases of dengue hemorrhagic fever (DHF) in West Java with 24,491 cases in the period 2009-2013. Dengue virus transmission occurs from DHF patients through the bite of Aedes aegypti and Ae. albopictus as the primary vector, while Ae. polynesiensis, Ae. scutellaris and Ae. (Finlaya)niveus as secondary vectors. To determine the relationship of the presence of larvae of Aedes spp with DHF, has conducted research with larval survey and analysis of dengue cases in the city of Bandung. Research was carried out by recording DHF patients in the period 2011-2013, then visit to interview and survey of Aedes mosquito larvae in water containers inside and outside the home. Samples were successfully visited are 402 houses consist of 201 houses with DHF cases and 201 without DHF cases. The results showed that of 402 samples were obtained 75 positive of larvae of Aedes spp (house index/HI 18.7%) consisted of 36 without DHF patient and 39 with DHF patient. Among the 8 villages research sites, highest HI is Cijaura village is 21.9%, and the lowest is village Manjahlega (11.1%) (9 houses), while in the Cidurian village was  not found Aedes mosquitoes larvae. The most number of houses which positive of larvae of Aedes spp water containers are Sekejati village (37 houses), whereas the least was the Manjahlega village (2 houses). The results of chi square analysis and correlation, showed that there was no significant association between the presence of larvae of Aedes spp with DHF cases. Concluded, the presence of larvae of Aedes spp not significant associated with DHF cases in Bandung City, West Java. For the occurrence of dengue cases, beside the presence of Aedes spp, is also influenced by other factors such as the vector capacity, dengue virus virulence and host immune status. We recommended, to DHF control, beside conducting the control of dengue vector, is also needs to be carried out the other activities related to the prevention of risk factors causing the emergence of DHF cases. Keywords: Aedes spp. larvae, DHF patients, Bandung, transmission of dengue, dengue vector Abstrak. Kota Bandung merupakan wilayah dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) paling banyak di Jawa Barat dengan 24.491 kasus pada periode tahun 2009-2013. Penularan virus dengue terjadi dari penderita DBD melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer, sedangkan Ae. polynesiensis, Ae. scutellaris dan Ae. (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder. Telah dilakukan penelitian dengan survei larva dan analisis kasus DBD di Kota Bandung dengan tujuan mengetahui hubungan keberadaan larva nyamuk Aedes spp dengan kesakitan DBD, Penelitian dilakukan dengan pencatatan penderita DBD periode tahun 2011-2013, selanjutnya dikunjungi untuk dilakukan wawancara dan survei larva nyamuk Aedes spp pada kontainer air di dalam dan luar rumah. Sampel yang berhasil dikunjungi adalah 402 rumah dari 8 kampung terdiri atas 201 rumah tangga yang ada kasus DBD dan 201 rumah tangga yang tidak ada kasus DBD sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan, dari 402 sampel penelitian, didapatkan 75 sampel positif larva nyamuk Aedes spp (House Index/HI 18,7%) terdiri dari 36 rumah tidak ada kasus DBD dan 39 rumah dengan kasus DBD. Di antara 8 kampung lokasi penelitian, HI paling tinggi adalah kampung Cijawura (21,9%) dan paling rendah adalah kampung Manjahlega (11,1%), sedangkan di kampung Cidurian tidak ditemukan larva Aedes spp. Jumlah rumah  dengan kontainer air yang positif larva nyamuk Aedes spp, paling banyak adalah kampung Sekejati yaitu 37 rumah dan yang paling sedikit adalah kampung Manjahlega yaitu 2 rumah. Hasil analisis Chi-square dan korelasi, menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara keberadaan larva nyamuk Aedes spp dengan kasus DBD. Disimpulkan, keberadaan larva Aedes spp tidak berhubungan dengan kasus DBD di Kota Bandung Jawa Barat. Untuk terjadinya kasus DBD, selain keberadaan nyamuk Aedes spp, juga dipengaruhi faktor lain seperti vector capacity, virulensi virus dengue, dan status kekebalan pejamu.  Selanjutnya disarankan, dalam pengendalian DBD, selain melakukan pengendalian vektor juga perlu dilakukan kegiatan lain yang berkaitan dengan penanggulangan faktor risiko munculnya kasus DBD Kata Kunci: larva Aedes spp, penderita DBD, Kota Bandung, penularan DBD, vektor DBD
Copyrights © 2015