Logo IPI  
Journal > Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases > Tingginya angka kecacingan pasca pengobatan massal filariasis (dec dan albendazole) di SDN Juku Eja Pagatan

 

Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases
Vol 3, No 1 (2017): JHECDs Vol.3, No.1, Juni 2017
Tingginya angka kecacingan pasca pengobatan massal filariasis (dec dan albendazole) di SDN Juku Eja Pagatan
Indriyati, Liestiana ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kementerian Kesehatan RI)
Annida, - ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kementerian Kesehatan RI)
Fakhrizal, Deni ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kementerian Kesehatan RI)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
07 Aug 2017
 
Abstract.Helminthiasis considered as "neglected diseases" because it doesn’t induce mortality, but impact on the human resources that can lead to "lost generation. The results of the study in 2008, found the prevalence of worm infection in Sekolah Dasar Negeri Juku Eja > 50% where the study was conducted at 3 months post-mass drug administration in it. Required periodic inspections to determine the update status of worm infection in SDN Juku Eja. Descriptive study with cross sectional design was held in SDN Juku Eja Pagatan Kusan Hilir subdistrict in February 2016 (four months after mass drug administration of filariasis in Tanah Bumbu. Population were all students (grades 1-6) SDN Juku Eja Pagatan were given sample pot as many as 170 students and sample were 123 students who collected pots contained by stool samples and examined using direct/native method. 102 positive samples (82.93%) consists of Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta and Enterobius vermicularis. The high prevalence of helminthiasis in SDN Juku Eja riddling civil disobedience in consuming filariasis mass drug or albendazole dose is not able to heal helminthiasis due to the high intensity of helminthiasis.Keywords: helminthiasis, control program, mass drug administrationAbstrak.Kecacingan dianggap sebagai penyakit yang diabaikan karena tidak menyebabkan kematian, meskipun demikian kecacingan berdampak pada penurunan sumber daya manusia yang dapat menyebabkan hilangnya generasi. Hasil penelitian tahun 2008, menemukan angka prevalensi kecacingan di SDN Juku Eja > 50%, penelitian dilakukan pada 4 bulan pasca pemberian obat cacing massal di SD tersebut. Diperlukan pemeriksaan berkala untuk mengetahui status kecacingan di SDN Juku Eja saat ini. Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dilakukan di SDN Juku Eja Pagatan Kecamatan Kusan Hilir pada Februari 2016 (empat bulan pasca dilakukannya pembagian obat massal kecacingan (filariasis) di Kabupaten Tanah Bumbu. Kegiatan yang dilakukan yaitu pemeriksaan sampel kecacingan menggunakan metode direct/langsung. Populasi adalah seluruh siswa (kelas 1-6) SDN Juku Eja Pagatan yang dibagikan pot tinja sebanyak 170 siswa dan sampel sebanyak 123 siswa yang mengumpulkan pot berisi sampel tinja untuk diperiksa, 102 sampel positif kecacingan (82,93%) terdiri atas Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta dan Enterobius vermicularis. Tingginya prevalensi kecacingan di SDN Juku Eja memunculkan dugaan ketidakpatuhan masyarakat dalam mengkonsumsi obat massal filariasis atau dosis albendazole yang dikonsumsi tidak mampu menyembuhkan infeksi kecacingan dikarenakan tingginya intensitas dan tingkat infeksi cacing yang diderita selain kemungkinan terjadinya reinfeksi pasca pengobatan.Kata kunci: kecacingan, program pengendalian, pembagian obat massal
Copyrights © 2017