Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > JURNAL ILMIAH GEOMATIKA > ANALISIS OPTIMASI KEBUTUHAN LUASAN HUTAN KOTA SEBAGAI PENYERAP TIMBAL SERTA STRATEGI PENGELOLAANNYA DI WILAYAH DKI JAKARTA

 

JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
Vol 19, No 1 (2013)
ANALISIS OPTIMASI KEBUTUHAN LUASAN HUTAN KOTA SEBAGAI PENYERAP TIMBAL SERTA STRATEGI PENGELOLAANNYA DI WILAYAH DKI JAKARTA
Ruyani, Ipih ( Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan - IPB)
Kusmana, Cecep
Sutjahjo, Surjono H
Suaedi, Suaedi
Article Info   ABSTRACT
Published date:
05 Jan 2016
 
Kemampuan ekosistem untuk menyerap polusi berkurang karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hingga tahun 2009, hanya 9 % dari total luas area RTH yang direalisasi di Jakarta, dan pada 2000-2010 ditargetkan mencapai 13,94 %. Kegagalan Pemerintah Jakarta untuk memenuhi daerah yang tertutup sempurna RTH tentu akan memperburuk polusi udara di kota. Hasil pengukuran timbal (Pb) di udara (ambien) akan ditampilkan di semua lokasi di bawah 0,001 μg/Nm3. Hasil pengukuran menunjukkan semua kandungan timbal dalam tanah berkisar antara 2,0 ppm (HK T.7 UI) menjadi 44,9 ppm (T.13 Terminal Kampung Rambutan). Kadar timbal dalam organ berbagai jenis pohon (batang, cabang, daun) di semua lokasi sekitar <0,7 mg/kg. Berdasarkan peraturan kebutuhan RTH di Provinsi DKI Jakarta adalah 19.846 ha (30%). Berdasarkan analisis spasial dari data ALOS 2009, RTH baru yang tersedia adalah  sekitar13.613 ha (20,58%), sehingga RTH yang  masih masih dibutuhkan adalah seluas 6,232 ha (9,42%). Menurut peraturan yang ada, kebutuhan RTH yang berupa Hutan Kota di Jakarta adalah 6.615,2 ha (10%) dan potensial area yang diarahkan menjadi hutan kota adalah sekitar  4.419.804 ha (6,68%).  Oleh karena hutan kota masih perlu ditambah seluas 2.195,40 ha (3,32%).  Skenario perluasan RTH sangat berpengaruh pada konsentrasi timbal di udara. Hasil Analytical Hierarchy Process (AHP) menunjukkan strategi optimasi itu harus dimulai dengan mengembangkan hutan kota, yang diisi dengan pohon-pohon dengan stratifikasi penuh (24,8 % berat).Tahap selanjutnya adalah dengan menggunakan Building Coverage Ratio (KDB) (13,7%) dan dengan memberikan kompensasi kepada orang-orang yang tinggal di sekitar hutan kota yang bersedia untuk menjaga kualitas hutan kota (13,2%) Sementara itu, strategi perluasan RTH dapat dilakukan dengan berbagai tindakan operasional dengan melibatkan pihak terkait lainnya. Kata Kunci: Jakarta, Optimasi, Polusi, RTH.  ABSTRACTThe ecosystem ability to absorb pollution is reduced due to the lack of Green Open Space (GOS). Until 2009, only 9% of its total area in Jakarta is realized, and during 2000-2010 GOS is set at 13.94%. Jakarta Governments failure to meet the ideal covered area of GOS will certainly aggravate air pollution in the city.  Results of measurement of lead (Pb) content in air (ambient) shown in all locations are below 0.001 μg/Nm3.  Measurement results showed the total lead content in soil ranged between 2.0 ppm (HK T.7 UI) to 44.9 ppm (T.13 Kampung Rambutan Terminal).  Lead content in the organs of various types of trees (trunks, branches, leaves) in all locations approximately <0.7 mg / kg.  Based on legal regulations, the necessity GOS Jakarta Province is about 19,846 ha (30%).  Based on spatial analysis from Alos 2009, new GOS availability is about 13.613 ha (20.58%), which means it still takes up 6,232 ha of GOS (9.42%).  Based on legal regulation, the need of Urban Forest GOS in Jakarta is 6,615.2 ha (10%) and the potential area to be set as urban forest approximately 4,419.804 ha (6.68%).  Therefore, we need to increase urban forest area of 2,195.40 ha (3.32%).  Dynamic model simulation result shows that there is a pressure on the existence of GOS by land conversion due to development.  GOS existence (in East Jakarta and South Jakarta) could increase the absorption of lead contamination.  Analytical Hierarchy Process (AHP) result shows that the optimization strategy should be started by developing urban forest, consists of trees with full stratification (24.8% weight).  The next step is by using Building Coverage Ratio (KDB) (13.7%) and by giving compensation to people living around the urban forest who are willing to maintain the quality of urban forest (13.2%).  Meanwhile, GOS strategy for expansion can be done with a variety of operational actions involving other related parties. Keyword: Jakarta, Optimation, Pollution, GOS.
Copyrights © 2016