Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > MEDIA MEDIKA MUDA > PENGARUH FORMALIN PERORAL DOSIS BERTINGKAT SELAMA 12 MINGGU TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS OTAK TIKUS WISTAR

 

Full Text PDF (470 kb)
MEDIA MEDIKA MUDA
2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
PENGARUH FORMALIN PERORAL DOSIS BERTINGKAT SELAMA 12 MINGGU TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS OTAK TIKUS WISTAR
Laymena, Ericko Hartanto ( Mahasiswa Program Pendidikan S-1 Kedokteran Umum FK UNDIP)
Suharto, Gatot ( Staf Pengajar Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UNDIP/ RSUP Dr. Kariadi, Jl. Dr. Sutomo No. 16-18 Semarang)
Margawati, Ani ( Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan FK UNDIP Jl. Dr. Sutomo No. 18 Semarang)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
17 Dec 2012
 
Latar Belakang : Formalin merupakan bahan yang secara luas digunakan dalam pendidikan dan penelitian, pengawet jenazah dan disinfektan. Saat ini formalin sering disalahgunakan sebagai pengawet bahan tambahan makanan, hal ini bertentangan dengan peraturan menteri kesehatan. Formalin dapat mengganggu keamanan, mutu, dan gizi dari makanan yang telah diatur dalam peraturan pemerintah. Sehingga pada akhirnya akan merugikan konsumen. Dewasa ini terdapat beberapa pustaka dan penelitian mengenai formalin, dan pengaruh formalin terhadap gangguan neurologis secara klinis sudah pernah diteliti. Namun penelitian pengaruh formalin terhadap gambaran histopatologi otak masih belum jelas.Tujuan : Mengetahui perbedaan gambaran histopatologi otak tikus wistar pada pemberian formalin peroral dosis bertingkat selama 12 minggu.Metode : Penelitian true experimental laboratorik dengan post test only control group design. Sampel penelitian adalah tikus wistar jantan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dibagi secara acak dengan simple random sampling. Konsumsi formaldehid 0 ml/hari pada kelompok kontrol; 1/16 dosis lethal (0,019-0,025 ml/hari) pada kelompok I; 1/8 dosis lethal (0,038-0,050 ml/hari) pada kelompok II; ΒΌ dosis lethal (0,075-0,100 ml/hari) pada kelompok III. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung gambaran histopatologi otak. Uji hipotesis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc.Hasil : Nilai rerata jumlah kerusakan sel otak yang tertinggi pada kelompok perlakuan III. Uji ANOVA didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,000). Uji post-hoc didapatkan perbedaan yang bermakna pada K-I (p=0,003), K-II (p=0,000), K-III (0,000), I-II (p=0,030), I-III (p=0,003)Kesimpulan : Pemberian formalin peroral dosis bertingkat pada tikus wistar menyebabkan terjadinya perubahan gambaran histopatologi otak. Perubahan struktur histopatologi otak yang terlihat berupa penurunan jumlah sel saraf otak tiap lapangan pandang.Kata Kunci : Formalin, formaldehid, peroral, gambaran histopatologi otak, tikus wistar.
Copyrights © 2012