Announcement
Starting on July 4, 2018 the Indonesian Publication Index (IPI) has been acquired by the Ministry of Research Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) called GARUDA Garba Rujukan Digital (http://garuda.ristekdikti.go.id)
For further information email to portalgaruda@gmail.com

Thank you
Logo IPI  
Journal > Buletin Penelitian Sistem Kesehatan > HUBUNGAN KETERSEDIAAN TENAGA KEFARMASIAN DENGAN KARAKTERISTIK PUSKESMAS DAN PRAKTIK KEFARMASIAN DI PUSKESMAS

 

Full Text PDF (193 kb)
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Vol 16, No 1 Jan (2013)
HUBUNGAN KETERSEDIAAN TENAGA KEFARMASIAN DENGAN KARAKTERISTIK PUSKESMAS DAN PRAKTIK KEFARMASIAN DI PUSKESMAS
Herman, Max Joseph ( Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Badan Litbang Kesehatan)
Supardi, Sudibyo ( Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Badan Litbang Kesehatan)
Yuniar, Yuyun ( Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Badan Litbang Kesehatan)
Article Info   ABSTRACT
Published date:
01 Aug 2013
 
Latar belakang: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian menyatakan bahwa tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Berdasarkan pasal 21, pelayanan resep atau penyerahan obat resep dokter di puskesmas, harus dilakukan oleh apoteker. Masalah penelitian adalah belum diketahui kondisi ketersediaan tenaga kefarmasian dalam kaitannya dengan karakteristik dan Praktik kefarmasian di puskesmas. Metode: Studi ini merupakan analisis lanjut data sekunder Riset Fasilitas Kesehatan Tahun 2011 yang menggunakan pendekatan survei (cross-sectional) terhadap puskesmas di kabupaten/kota terkait ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas dan dilakukan pada bulan Agustusā€“September 2012. Tujuan analisis adalah mendapatkan informasi tentang ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas, ketersediaan tenaga kefarmasian berdasarkan karakteristik puskesmas dan Praktik kefarmasian berdasarkan ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas. Konfirmasi data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Bagian Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Bogor dan Kota Bekasi serta tenaga kefarmasian pengelola obat di Puskesmas. Pengolahan data dilakukan dengan membandingkan ketersediaan tenaga kefarmasian berdasarkan karakteristik puskesmas dan Praktik kefarmasian berdasarkan ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas. Analisis data berupa distribusi frekuensi, ujiĀ Mann-Whitney, uji Kruskal-Wallis dan uji Kendalls tau b. Hasil: Hasil penelitian analisis lanjut terhadap seluruh puskesmas di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 17,5% puskesmas di Indonesia memiliki apoteker dan ada 32,2% puskesmas yang tidak memiliki tenaga kefarmasian sama sekali. Ada perbedaan ketersediaan tenaga kefarmasian antar puskesmas berdasarkan lokasi puskesmas, jenis puskesmas, keterpencilan wilayah dan status kepegawaian tenaga kefarmasian. Apoteker berperan lebih baik dalam memberikan pelayanan farmasi, mengelola obat dan menyusun LP-LPO dengan lengkap dibandingkan dengan tenaga teknis kefarmasian dan tenaga teknis kefarmasian juga berperan lebih baik dibandingkan dengan tenaga non-farmasi dalam hal yang sama.
Copyrights © 2013